Kabar73.com – Asahan | Kodim 0208/Asahan resmi memulai penanaman padi gogo di lahan seluas 3,9 hektare pada Rabu (26/11/2025), menandai dimulainya program percepatan ketahanan pangan di wilayah tersebut.
Area yang ditanami merupakan bekas perkebunan kelapa sawit milik PT Bakrie Sumatra Plantations (BSP) yang telah diserahkan untuk kepentingan publik. Pemanfaatan lahan tidur ini dinilai sebagai langkah nyata menghadapi ancaman krisis pangan dan perubahan iklim.
Dandim 0208/Asahan, Letkol Inf Edy Susanto, menjelaskan bahwa gerakan tersebut merupakan strategi adaptif untuk menjaga ketersediaan pangan di tengah ketidakpastian produksi beras nasional. Padi gogo dipilih karena dapat tumbuh baik di lahan kering tanpa membutuhkan sistem irigasi intensif.
“Inisiatif ini bukan sekadar kegiatan menanam, tapi bagian dari transformasi pemanfaatan lahan tidak produktif. Kami berharap seluruh Koramil dapat mengembangkan program serupa sehingga ketahanan pangan semakin merata,” ucapnya.
Dukungan juga datang dari pihak perusahaan. General Manager PT BSP Regional Kisaran, Ahmad Nelson Samosir, menilai keterlibatan dunia usaha dalam program pangan menjadi keharusan, terlebih saat dinamika global turut memengaruhi ketersediaan bahan pokok.
“Ketahanan pangan merupakan simbol kedaulatan negara. Kolaborasi TNI, pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta seperti ini menjadi kunci menghadapi tantangan ke depan. Pemanfaatan lahan eks sawit untuk padi gogo adalah langkah inovatif dan responsif,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Asahan menyambut optimistis program tersebut. Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin, menilai sinergi lintas sektor mampu mempercepat target peningkatan produksi beras daerah. Ia menyebut Asahan memiliki 8.400 hektare sawah dan pada 2024 menghasilkan sekitar 99 ribu ton beras. Tahun 2025, produksi ditargetkan naik menjadi 125 ribu ton.
“Kegiatan seperti ini harus diperluas agar stok pangan terjaga dan kesejahteraan masyarakat ikut terdongkrak,” kata Bupati.
Program penanaman padi gogo ini diharapkan menjadi model pengelolaan lahan nonproduktif yang berkelanjutan. Jika hasil panen sesuai harapan, gerakan ini dapat menjadi referensi nasional bahwa inovasi pertanian berbasis kolaborasi mampu memberikan dampak besar bagi ketahanan pangan daerah. (red)













