Kisaran, Kabar73.com || Sebuah babak baru dalam dunia pendidikan tinggi di Kabupaten Asahan ditorehkan pada Selasa (28/4/2026). Universitas Asahan (UNA) tidak hanya merayakan usia emasnya yang ke-40, tetapi juga mencatatkan tonggak sejarah monumental: pengukuhan guru besar pertama di lingkungan kampus tercinta. Rasa haru, bangga, dan optimisme memenuhi Ruang Sidang Gedung Zulfirman Siregar, Kampus UNA, ketika Prof. Dr. Sri Rahayu, S.Pd., M.Pd., resmi menyandang gelar profesor di bidang Pendidikan Bahasa Inggris.
Pengukuhan berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Asahan Nomor: 81/KPTS-UNA/Tahun 2026 ini menjadi puncak dari perjalanan akademik panjang Prof. Sri Rahayu. Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Transformasi Pendidik dalam Pembelajaran di Era Digital pada Generasi Z,” ia tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga menyisipkan pesan haru dari sang almarhum ayah, Ridwan Sadari, yang berpulang pada tahun 2006.
“Sekolahlah setinggi-tingginya, karena suatu hari nanti, ilmu yang kalian dapatkan akan membawa kalian ke tempat yang mulia. Bergantunglah kepada Allah SWT,” kenang Prof. Sri Rahayu menirukan pesan terakhir ayahnya, yang menjadi kobaran semangatnya hingga mencapai puncak karier akademik.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada tiga putranya yang tengah berjuang di lomba karya ilmiah di Kuala Lumpur, serta putri bungsunya. “Tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan,” ujarnya mengutip Ali bin Abi Thalib, menegaskan bahwa gelar profesor baginya bukan sekadar capaian administratif, melainkan amanah untuk terus berkontribusi.
Transformasi Pendidikan untuk Generasi Digital
Dalam orasinya yang menginspirasi, Prof. Sri Rahayu mengupas tuntas tantangan dunia pendidikan saat ini. Menurutnya, Generasi Z yang tumbuh sebagai digital native membutuhkan pendekatan yang revolutif. Pendidik tidak bisa lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan harus bertransformasi menjadi fasilitator, mentor, dan pembelajar sepanjang hayat.
“Pendidikan ke depan bukan lagi soal siapa yang lebih canggih, tapi siapa yang lebih adaptif. Bukan yang lebih pintar, tapi yang paling cepat belajar dan menyesuaikan diri,” tegasnya disambut tepuk meriah para hadirin.
Ia memaparkan pentingnya penguasaan lima kawasan teknologi pendidikan—mulai dari desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, hingga evaluasi. Guru besar pertama UNA ini juga menyoroti bahwa dari sekitar 75-82 persen Generasi Z yang bergantung pada ponsel pintar, potensi edukasi melalui media sosial dan gamifikasi harus dimaksimalkan.
Apresiasi dari Pimpinan dan Pemerintah Daerah
Rektor Universitas Asahan, Assoc. Prof. Dr. Mangaraja Manurung, S.H., M.H., dalam sambutannya tidak bisa menyembunyikan rasa haru dan bangganya. “Ini adalah momen istimewa. Selama 40 tahun berdiri, UNA belum pernah memiliki guru besar. Hari ini, mimpi itu menjadi nyata. Prof. Sri Rahayu adalah pembuka jalan. Kami telah menyiapkan peta jalan percepatan, dan targetnya, setiap tahun akan lahir dua profesor baru dari UNA,” ujarnya penuh semangat.
Ia juga memaparkan sederet pencapaian UNA dalam empat tahun terakhir: akreditasi unggul untuk dua program studi, peningkatan jumlah dosen doktor sebesar 32 persen, serta berbagai prestasi mahasiswa di tingkat nasional dan internasional.
Sementara itu, Wakil Bupati Asahan, Rianto, S.H., M.A.P., yang hadir mewakili Forkopimda, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Asahan, kami ucapkan selamat Dies Natalis ke-40. Keberadaan guru besar ini bukan hanya kebanggaan bagi UNA, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Asahan. Ini akan menjadi motor penggerak inovasi dan peningkatan SDM daerah,” ujarnya. Ia pun membuka peluang kerja sama strategis antara Pemkab Asahan dan UNA di bidang penelitian terapan dan pengembangan potensi lokal.
Ketua Yayasan Universitas Asahan, Drs. H. Mapilindo, M.Pd., menambahkan bahwa usia 40 tahun adalah fase krusial penentu arah kemajuan. “Kami berharap para dosen muda termotivasi mengikuti jejak Prof. Sri Rahayu. Ini adalah awal dari loncatan besar UNA,” tegasnya.
Pesan Inspiratif di Balik Gelar Profesor
Menutup orasinya, Prof. Sri Rahayu meninggalkan pesan filosofis yang menggetarkan hati para tamu undangan. Ia mengutip Saidina Umar bin Khattab: “Aku tidak peduli atas keadaan senang dan susahku, karena aku tidak tahu mana di antara keduanya yang lebih baik untukku. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang dipuji, kadang dicaci… Itulah kewajaran hidup. Selagi Allah ridho, aku baik-baik saja.”
“Bagi saya, menjadi profesor adalah persoalan administratif. Tetapi memiliki sikap intelektual, kiprah, dan tanggung jawab sebagai profesor itulah yang sesungguhnya sulit. Maka, mohon doa dan dukungan dari kita semua,” pungkasnya.
Rangkaian acara yang berlangsung khidmat hingga pukul 12.00 WIB itu diawali dengan lagu Indonesia Raya, Mars UNA, pembacaan SK Rektor, orasi ilmiah, serta sambutan-sambutan haru dari para pemangku kepentingan. Suasana penuh haru sekaligus optimisme menyelimuti seluruh civitas academica, menandai bahwa Universitas Asahan kini benar-benar siap melesat menuju masa depan yang lebih cemerlang. (red)














