Asahan – Kabar73.com || Kasus tenggelamnya Awaludin Nasution (40), warga Dusun I, Desa Pulau Rakyat Tua, di aliran Sungai Asahan pada Minggu (22/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIB, terus menjadi perbincangan hangat. Peristiwa yang merenggut nyawa warga Pulau Rakyat itu kini memasuki babak baru setelah kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Kabupaten Asahan secara terbuka menyuarakan kecurigaan terhadap peran aparat kepolisian.
Sorotan publik terhadap kasus Sungai Asahan ini kian menguat seiring beredarnya informasi bahwa sebelum ditemukan tenggelam, korban diduga berlari ke arah bawah jembatan saat didatangi petugas menggunakan mobil patroli. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi yang mengurai secara rinci bagaimana Awaludin Nasution bisa berada di tengah arus sungai yang dikenal deras tersebut.
Kecurigaan mahasiswa semakin menguat setelah muncul informasi bahwa proses pencarian korban tidak dilakukan pada hari kejadian. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, upaya pencarian di Sungai Asahan justru baru dilakukan keesokan harinya.
Bagi Cipayung Plus Asahan, respons dalam situasi darurat yang menyangkut keselamatan jiwa seharusnya dilakukan secepat mungkin. Penundaan, menurut mereka, berpotensi memperkecil peluang penyelamatan dan menimbulkan pertanyaan serius di tengah masyarakat.
Dalam konferensi pers kepada awak media, Jumat (27/2/2026) malam, perwakilan mahasiswa menyebut adanya isu dugaan keterlibatan oknum aparat berinisial Aipda R. Dugaan tersebut hingga kini belum mendapat klarifikasi resmi dari pihak kepolisian.
“Kami mengumpulkan beberpa informasi. Di tengah berkembangnya isu, muncul dugaan keterlibatan oknum aparat berinisial Aipda R dalam peristiwa tersebut. Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak kepolisian terkait posisi maupun peran oknum yang disebut-sebut berada di lokasi saat kejadian,” kata Ryandavi Lesmana, Ketua IMM Asahan.
Pernyataan itu menambah daftar pertanyaan publik terkait kronologi lengkap tenggelamnya Awaludin Nasution di Pulau Rakyat.
Cipayung Plus Kabupaten Asahan yang terdiri dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI), Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), serta Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), menyatakan akan mengawal ketat proses pengusutan kasus ini.
Ryandavi Lesmana menegaskan pihaknya mendesak Kapolres Asahan membuka seluruh fakta secara terang kepada publik.
“Kami tidak ingin ada informasi yang ditutup-tutupi. Jika memang ada dugaan kelalaian atau keterlibatan oknum, maka harus diperiksa secara profesional dan transparan. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan detail dari kepolisian terkait kronologi lengkap kejadian di Sungai Asahan maupun klarifikasi atas dugaan yang beredar. Ketiadaan penjelasan resmi membuat spekulasi terus berkembang di tengah masyarakat Pulau Rakyat dan sekitarnya.
Mahasiswa meminta dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap jajaran yang bertugas saat insiden terjadi, termasuk penjelasan mengenai alasan penundaan pencarian korban. Mereka menilai objektivitas dan akuntabilitas menjadi kunci untuk meredam kegelisahan publik.
Kasus tenggelamnya Awaludin Nasution kini bukan sekadar peristiwa kecelakaan air biasa. Sorotan terhadap dugaan peran aparat, lambatnya pencarian, hingga tuntutan transparansi menjadikan insiden ini sebagai ujian bagi penegakan hukum di Asahan. Masyarakat menunggu langkah konkret aparat penegak hukum untuk memastikan proses investigasi berjalan profesional, terbuka, dan tanpa intervensi. (red)













