Jakarta – Kabar73.com || Film “Buya Hamka” menceritakan perjalanan hidup seorang sastrawan yang juga merupakan ulama bernama Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau kerap dipanggil dengan nama penanya, yakni Hamka.
Perjalanan hidup Buya Hamka di kehidupan nyata penuh dengan perjuangan. Hal tersebut membuat dia dikenal sebagai tokoh inspiratif oleh masyarakat. Tak heran, Falcon Pictures mengangkat kisahnya ke layar lebar.
Film “Buya Hamka” dibagi menjadi 3 volume dan akan mulai tayang sejak Rabu, 19 April 2023 di bioskop Indonesia.
Sinopsis Film Buya Hamka
VOL. I: Hamka merupakan seorang pengurus Muhammadiyah di Makassar yang berhasil memberikan kemajuan pesat pada organisasi tersebut. Dia juga menulis sastra koran dan cerita roman yang disukai oleh para pembaca.
Diangkat menjadi pemimpin redaksi majalah Pedoman Masyarakat, membuat Hamka dan keluarganya pindah ke Kota Medan. Jepang menganggap posisinya tersebut sebagai suatu ancaman hingga akhirnya terjadi benturan antara kedua pihak.
Tak hanya itu, keluarga Hamka pun terguncang saat salah satu anaknya meninggal karena sakit. Pendekatan yang dia lakukan pada pihak Jepang juga dianggap menjilat. Akibatnya, Hamka diminta mundur dari jabatan pengurus Muhammadiyah.
VOL. II: Ancaman agresi kedua dari tentara Sekutu muncul setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Hamka yang tidak ingin perpecahan terjadi kemudian memutuskan untuk berkeliling di seluruh pelosok Kota Medan.
Dia mengabarkan tentang pentingnya persatuan antara masyarakat (tokoh agama) dan pihak militer Indonesia agar tidak diadu domba. Saat sedang beraksi, Hamka ditembak tetapi berhasil selamat. Atas jasanya itu, dia pindah ke Jakarta dan mendirikan Al-Azhar.
Suatu kali, Hamka difitnah terlibat dalam usaha pemberontakan pada Soekarno. Dia ditangkap dan disiksa untuk menandatangani surat pengakuan. Setelah bertahan, Hamka mendapatkan hikmah untuk membuat sebuah kitab yakni tafsir Al-Azhar.
VOL. III: Sejak kecil, Hamka dikenal sebagai sosok anak laki-laki yang menunjukkan minat besar terhadap tradisi dan sastra. Dia mengabaikan pendidikannya di pesantren hingga membuat ayahnya, Haji Rasul murka.
Pertikaian Hamka dengan ayahnya semakin besar saat ibunya memilih perceraian. Dia memutuskan pergi ke Mekkah untuk naik haji sekaligus belajar. Di sana, Hamka belajar berorganisasi dan menemukan sistem manasik haji (atas restu Raja Arab).
Hamka juga mendapatkan misi terbesar dalam hidupnya untuk membangun Islam di Indonesia. Namun, hal itu tak mudah karena keraguan sang ayah atas kemampuannya. Di tengah keresahan, Hamka bertemu dengan seorang perempuan bernama Siti Raham. (*)