ASAHAN – Kabar73.com || Pemerintah Kabupaten Asahan langsung tancap gas. Harga bahan pokok, terutama beras, melonjak? Jawabannya: Gerakan Pangan Murah (GPM). Tanpa banyak seremoni, gerakan ini dimulai di Kecamatan Kota Kisaran Barat sebagai langkah taktis meredam inflasi pangan dan menahan tekanan kantong rakyat jelang HUT ke-80 RI.
Bupati Asahan Taufik Zainal Abidin bersama Wakil Bupati Rianto dan jajaran Forkopimda turun langsung ke lokasi GPM pertama di halaman Kantor Camat Kisaran Barat. Di sana, warga sudah mengantre. Mereka mencari beras, minyak goreng, telur, dan gula dengan harga miring—lebih murah 15–25 persen dibanding harga pasar.
“Ini bukan aksi seremonial. Ini respon cepat terhadap tekanan harga. Kami hadir langsung, bantu rakyat,” tegas Bupati.
GPM digelar serentak ke 17 kecamatan, menyasar kantong padat penduduk dan daerah rawan lonjakan harga. Operasi pasar ini bukan sekadar wacana. Digawangi Dinas Ketahanan Pangan Asahan, mereka menggandeng Perum Bulog, PT. Sintong Abadi, PT. Jampalan Baru, pengusaha telur, dan pelaku UMKM lokal. Tujuannya satu: potong rantai distribusi, rem harga pangan.
Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan Asahan, Ali Muqhofar, GPM jadi alat tempur melawan distribusi panjang yang bikin harga melambung. “Kami bawa produsen langsung ke warga. Gula, minyak, telur, beras—semua langsung tangan pertama,” ujarnya.
Tak cuma itu, Bupati mengungkap rencana jangka menengah: pembangunan cetak sawah baru seluas 1.200 hektare di Kecamatan Silau Laut. Langkah ini untuk memperkuat produksi pangan lokal agar Asahan tak lagi bergantung pada kiriman luar daerah.
“Kita tidak ingin sekadar bantu saat harga naik. Kita siapkan fondasi kemandirian pangan. Bahkan kami dorong warga tanam sendiri di pekarangan rumah,” seru Bupati dengan nada serius.
GPM akan bergulir hingga akhir Agustus. Tanpa embel-embel acara besar, tapi langsung menyasar kebutuhan utama rakyat. Bagi Pemkab Asahan, ketahanan pangan bukan retorika, tapi aksi konkret. (red)